Harian Jogja, Minggu, 8 Februari 2009
“SLEnK’, bila kata itu dilafalkan, otak akan langsung mengarah pada sebuah group band Indonesia yang melegenda. Namun SLEnK ini beda dengan Slank, group band tersebut. Apa bedanya? Selain beda dari segi penulisan, lagu-lagu yang mereka bawakan bukan lagu pop ataupun rock, namun lagu-lagu macapatan dan geguritan. Lagu-lagu macapatan dan geguritan? Mungkin anda sedikit tak menyangka di zaman begini, masih ada anak-anak muda menyanyikan macapatan. Tak hanya itu saja, menjadi dalang pun akan mereka lakukan dengan mahirnya.
Hanya dengan kostum sarungan, baju buntungan mereka memainkan wayang tersebut. Dan jangan salah, mainnya pun tak di sembarang tempat. Kafe atau tempat minum kopi menjadi tempat pertunjukan mereka. SLEnK merupakan singkatan Suko Lelangen Edining Kabudayan itulah mereka. Mereka adalah sekumpulan pemuda yang sangat tertarik kepada budaya Jawa. Terkadang juga mereka menyebut dirinya sebagai fasilitator budaya Jawa. Segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya Jawa seperti macapatan, cerita Jawa, pewayangan, dan sebagainya, SLEnK selalu hadir sana. Lewat inilah, SLEnK bisa membuktikan bahwa budaya Jawa tak hanya identik dengan orang tua yang konservatif, namun anak muda seperti mereka pun bisa menguasainya.
Meski budaya Jawa, namun SLEnK justru bangga dengan komunitas ini. “Sebagai orang Jawa, memang menjadi kesadaran tersendiri untuk mengembangkan budaya Jawa. Apalagi budaya Jawa adalah kebudayaan yang diciptakan sendiri oleh orang yang akrab dengan budaya Jawa, pastinya ini memiliki nilai lebih tersendiri bagi kita saat ini,” papar Sugito HS, Ketua Umum SLEnk.
Budaya Jawa memang menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi komunitas ini. Tujuan mereka mendirikan komunitas ini bukanlah memaksa anak muda untuk paham dan mendalami budaya Jawa, namun lewat diperkenalkan saja, sudah memberikan kepuasaan tersendiri bagi mereka. Karena bagi pemuda ini, SLEnK adalah pemberi keindahan bagi budaya Jawa dan tempat untuk mengaruhi budaya tersebut. “Kami hanya berusaha meningkatkan persentuhan masyarakat muda dengan seni budaya Jawa melalui berbagai acara seperti diskusi, workshop, apresiasi pertunjukan, dan sebagainya,” papar M. Ahmad Jalidu, Manager Program SLEnk.
Di tengah globalisasi ini, menurut Gito, budaya Jawa mulai ditinggalkan. Apalagi anak muda zaman sekarang, budaya Jawa seolah-olah hanya kenangan masa lalu yang meninggalkan sejarah tersendiri. Bagi Gito, sayang sekali jika budaya Jawa ini tidak dimunculkan dan diolah sedemikian rupa dengan baik. Apalagi Jogja, khususnya sebenarnya sangatlah strategis untuk pengembangan kebudayaan Jawa tersebut. “Di Jogja ini, kantong-kantong budaya sudah banyak tersedia, namun hanya sedikit orang yang mau menyentuhnya bahkan mengembangkannya,”kata Gito.
Ada sebuah keprihatinan serta kegelisahan bagi SLEnK ketika budaya Jawa tidak dikembangkan oleh masyarakat Jogja. Bila lama dibiarkan, budaya Jawa hanyalah benda mati bersejarah yang hanya tergolek begitu saja tanpa diketahui makna di baliknya. Karena itulah, anggota SLEnK memiliki rasa tanggungjawab tersendiri untuk mengembangkan kebudayaan Jawa tersebut dan memperkenalkan kembali pada kaum muda khususnya.
Sentuhan menarik Dengan menjaring anggota yang muda, SLEnK ingin menunjukkan bahwa budaya Jawa juga menarik bagi kalangan mereka. Karena itulah, SLEnK benar-benar mengemas budaya Jawa yang semula dianggap membosankan bagi kaum muda menjadi sebuah sajian yang menarik sekaligus memberikan makna bagi mereka. Untuk memberi sentuhan yang menarik bagi anak anak muda terhadap budaya Jawa, SLEnk selalu mengemas seni budaya Jawa dengan cara yang berbeda. Gito bercerita, untuk memainkan wayang pun mereka tidak harus berpakaian ala dalang pada umumnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah bahwa masyarakat muda itu tahu pesan yang akan disampaikan.
Meski ada istilah melanggar aturan pendahulu, justru tak menjadi masalah berat bagi mereka. “Sarungan atau celana pendek sering kami lakukan. Tak hanya itu, gunungan dalam wayang pun sering tidak kami gunakan,” papar Gito. Meski kami
dianggap nyleneh, namun justru predikat tersendiri bagi mereka. Selain dari pakaian, alat yang mereka gunakan, tempat pertunjukan pun selalu mereka perhatikan. Dengan membidik tempat nongkrong anak muda seperti kafe dan warung kopi, dengan beraninya mereka akan mempertunjukkan kebolehan mereka. Dan saat ini mereka sedang gencar mempertunjukkan wayang kulit bandosa atau istilahnya wayang dengan bahasa Indonesia. Lewat wayang kulit bandosa ini, justru menjadi bentuk keingintahuan masyarakat anak muda terhadap wayang kulit yang notabenya jarang sekali mereka tonton.
Itulah kepuasaan batin mereka. Sepertinya kepuasaan tersebut mengalahkan dengan semua jerih payah mereka. Maklum saja, acara yang mereka gelar selalu gratis dan terbuka untuk umum dan dibiayai atas swadaya sendiri. Dengan memanfaatkan relasi mereka, SLEnK berusaha untuk memberikan yang terbaik pada penontonnya. Tak terdaftar Ada keunikan lain juga dari komunitas ini, bahwa anggotanya pun tak terdaftar. Sampai saat ini hanya ada 4 orang pengurusnya. Ketika ada event, 4 orang ini yang aktif bekerja sendiri. Kata Gito, syukur-syukur teman lain ada yang membantu.”Bagi kami tak ada masalah untuk bekerja dalam jumlah sedikit. Kami tak memaksa anggota kami untuk mengikuti setiap event kami.
Sukarela dan keikhlasan, itu yang terpenting,” ungkap Gito. Awalnya, komunitas SLEnK yang terbentuk tahun 2006 ini memiliki banyak anggotanya. Dulunya huruf K pada SLEnK adalah singkatan dari Kasusastran, dimana anggotanya memang mereka yang tertarik dengan sastra Jawa. Dulunya setiap 1 bulan sekali mereka akan berkumpul bersama untuk membahas tentang sastra Jawa. “Dulu setiap anggota diharuskan membawa 1 karyanya dan saat kami berkumpul kami akan mendiskusikan karya tersebut,” papar Jalidu. Jalidu menambahkan, mereka sering menghadirkan pakar budaya Jawa untuk memberi nasehat tentang apresiasi mereka. Mengirim ke media pun selalu mereka lakukan untuk mengasah kemampuan Jawa mereka. Namun lama kelamaan, para anggotanya mengalami penurunan minat untuk berkarya, karena itulah setelah 1 tahun berjalan, SLEnK mulai memperluas komunitasnya.
Dengan mengubah Komunitas SLEnK Kasusastran menjadi Kabudayaan, akhirnya SLEnK terbuka untuk siapapun yang tertarik dengan budaya Jawa. Sejak itulah, setiap acara yang mereka gelar, anggotanya akan datang silih berganti. “Kami juga mengharapkan akan muncul komunitas sejenis yang nantinya bosa bertukar pengalaman dan idedengan kami,” pungkas Jali. ( Olivia Lewi Pramesti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar