Tampilkan postingan dengan label WARTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WARTA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Catatan Dari Kethoprak Saparan di Kampung Samirono

  
Sabtu, 6 Februari 2010, Sejak jam 7 malam, beberapa aorang mulai datang ke Pendhapa yang berada di tangah kampung Samirono, Catur Tunggal, Depok, Sleman itu. Dari sebuah baliho yang terpajang gagah di sudut halaman, tercantum bahwa sebentar lagi sebuah pertunjukan akan digelar. Kethoprak kampung...

Inilah akhir dari pesta Gelar Budaya Saparan di kampung Samirono. Sebuah perhelatan kampung yang ganjil sebenarnya. Bagaimana tidak, Samirono adalah sebuah kampung yang nyaris sulit dikategorikan. Ia bukan kampung organik, bukan pula kampung tua yang asli sebagaimana di wilayah sleman bagian utara. Samirono tercatat sebagai wilayah Sleman, tetapi satu langkah dari pal batas, adalah kampung Iromejan yang sudah wilayah Kota Yogyakarta. Samirono dijelali ratusan rumah yanh hampir seluruhnya adalah kost-kostan.

Kondisi ”desa yang kota” inilah yang saya katakan ganjil. Dan Saparan, sebuah perayaan khas pedesaan, masih bertengger bahkan semakin semarak tahun deni tahun di bawah kepemimpinan Subiantoro Kurniawan sang Kepala Dukuh. Sudahlah, memang demikian kenyataannya. Daripada ”ngrasani” ganjilnya, kita toh lebih layak mendukungnya.

Malam minggu 6 Februari kemaren adalah pertunjukan kethoprak berjudul Durung Nandur Melik Ngundhuh. Dari naskah karya Sugito HS, pegiat seni budaya Jawa, ketua komunitas Gerakan SLEnK yang juga aktivis di Bale Budaya Samirono. Kethoprak itu secara formal digarap oleh Kirwanto BG, pemuda setempat yang giat berteater. Iringan musik juga dikerjakan oleh Sugito HS dan Komunitas Gerakan SLEnK

Meski tidak bisa dikatakan ”yes!” untuk kualitas pertunjukannya, ada banyak hal yang lebih baik kita syukuri bersama dari peristiwa ini. Pertama. Ini adalah kethoprak yang dimainkan orang kampung Samirono sendiri. Apakah demikian ini istimewa? Sementara di kampung lain juga ada hal semacam ini. Ya, benar, tetapi kembali menyangkut pada Saparan, kethopra ini menjadi sedikit bernilai istimewa.

Para ketua RT dan RW beraksi dalam panggung. Barangkali lebih sering kata jumpai di medan peringatan kemnerdekaan. Perayaan 17 Agustus lebih lazim untuk berpentas sebab nasionalisme yang dibanagun negeri ini menang telah mendarah daging hingga terasa sangat miskin dan tidak kreatif sebuah kamoung yang tida menyelenggarakan apapun di bulan Agustus. Tetapi di bulan Sapar? Hanya kampung ”gila” di tengah kota ini yang memanggungkan para RT, RW dan ketua Pemuda nya.

Kedua yang istimewa adalah bentuk kethoprak mereka yang tidak ”mbagusi” dengan mengangkat tema politik dan istana sentris sebagai mana lazimnya kethoprak yang ada. Bale Budaya Samirono malam itu hanya menyajikan panggung kecil dan sederhana tanpa lembaran Tonil bergambar pilar keraton atau pemandangan pegunungan. Di sana tidak ditemukan mbok emban, putri raja yang bersedih hati, atau senapati yang sedang merencanakan penggempuran musuh. Di sana hanya ada warga yang steres memikirkan kemelaratan dan mencari guru spiritual untuk mendapat wahyu kemuliaan, seorang perampok yang ingin memperistri anak kyai, dan pamong desa yang merencanakan menghijaukan  jalanan kampung.

Gelak tawa memang terus bergema di ruang pentonon yang menyaksikan adegan-adegan dari para tetangganya sendiri tersebut. Tetapi, di dalam hati mereka, sungguh sangat terasa apa yang disajikan di panggung adalah masalah kampung itu sendiri. Jalanan yang panas tanpa pepohonan, warga yang tidak semuanya sejahtera ekonomi, juga perselisihan antar tetangga yang kerap terdengar. Dan yang pasti, semangat negatif sebagian warga yang tidak mau repot tetapi menginginkan kebaikan, Durung Nandur Melik Ngundhuh.

Cukup dua saja saya sebutkan keistimewaan itu. Paling tidak yang ketiga adalah mereka telah mampu menyajikan tontonan bagi masyarakatnya sendiri tanpa harus mengundang grup profesional. Sebagai pesta rakyat, mereka tidak butuh dramaturgi yang solid, mereka tidak butuh bloking dan tata artistik yang penuh simbol mutakhir. Cukup dengan dialog-dialog impove yang ”selalu nglucu” itu saja, mereka sudah melakukan sesuatu yang demokratis dan kontemporer. Demokratis sebab kethoprak itu tumbuh dari, oleh dan untuk warga Samirono. Kontemporer sebab mereka tidak sama sekali memperhatikan dramaturgi kethoprak klasik dan mereka membicarakan persoalan dan solusi dari apa yang sedang mereka hadapi saat ini.

Seperti angin yang terus berhembus, jangan berhenti, Samirono. 

M. Ahmad Jalidu

Rabu, 08 April 2009

SEKOLAH GAMELAN angkatan I selesai

Program SEKOLAH GAMELAN, yang merupakan mata program Gamelan Experience KOmunitas SLEnK telah usai dilaksanakan. Sesi terakhir pada 30 Maret 2009 lalu diikuti oleh 6 peserta dari semula 9 peserta yang bergabung pada sesi pertama.

Sugito HS, ketua SLEnK sekaligus instruktur Sekolah Gamelan menyatakan, "Mereka memang belum bisa dikatakan mampu secara profesional, kecuali beberapa peserta yang memang sudah memiliki latar pengalaman berkarawitan. Namun, dalam Sekolah Gamelan mereka diberi pemahaman tentang ciri-ciri gendhing-gendhing dasar sehingga mereka telah mampu mengenali dan tidak kesulitan mengikuti."

Dari beberapa alat yang diajarkan, Kendang adalah salah satu alat gamelan yang paling sulit dikuasai para siswa, namun sesuai dengan tujuan Sekolah Gamelan yaitu pengenalan pengalaman gamelan, hal ini tidak menjadi masalah.

"yang terpenting adalah mereka mengalami bagaimana memainkan gamelan, ini lebih mendasar sebagai kampanye pelestarian seni tradisi." demikian penjelasan M. Ahmad Jalidu, manajer program komunitas SLEnK. lebih lanjut Jali mengatakan bahwa Sekolah Gamelan akan membuka lagi angkatan kedua pada bulan Mei 2009 nanti.

Rabu, 11 Februari 2009

Anak muda pecinta budaya Jawa

20090210100213_asdasd.jpg

Harian Jogja, Minggu, 8 Februari 2009

“SLEnK’, bila kata itu dilafalkan, otak akan langsung mengarah pada sebuah group band Indonesia yang melegenda. Namun SLEnK ini beda dengan Slank, group band tersebut. Apa bedanya? Selain beda dari segi penulisan, lagu-lagu yang mereka bawakan bukan lagu pop ataupun rock, namun lagu-lagu macapatan dan geguritan. Lagu-lagu macapatan dan geguritan? Mungkin anda sedikit tak menyangka di zaman begini, masih ada anak-anak muda menyanyikan macapatan. Tak hanya itu saja, menjadi dalang pun akan mereka lakukan dengan mahirnya.

Hanya dengan kostum sarungan, baju buntungan mereka memainkan wayang tersebut. Dan jangan salah, mainnya pun tak di sembarang tempat. Kafe atau tempat minum kopi menjadi tempat pertunjukan mereka. SLEnK merupakan singkatan Suko Lelangen Edining Kabudayan itulah mereka. Mereka adalah sekumpulan pemuda yang sangat tertarik kepada budaya Jawa. Terkadang juga mereka menyebut dirinya sebagai fasilitator budaya Jawa. Segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya Jawa seperti macapatan, cerita Jawa, pewayangan, dan sebagainya, SLEnK selalu hadir sana. Lewat inilah, SLEnK bisa membuktikan bahwa budaya Jawa tak hanya identik dengan orang tua yang konservatif, namun anak muda seperti mereka pun bisa menguasainya.

Meski budaya Jawa, namun SLEnK justru bangga dengan komunitas ini. “Sebagai orang Jawa, memang menjadi kesadaran tersendiri untuk mengembangkan budaya Jawa. Apalagi budaya Jawa adalah kebudayaan yang diciptakan sendiri oleh orang yang akrab dengan budaya Jawa, pastinya ini memiliki nilai lebih tersendiri bagi kita saat ini,” papar Sugito HS, Ketua Umum SLEnk.

Budaya Jawa memang menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi komunitas ini. Tujuan mereka mendirikan komunitas ini bukanlah memaksa anak muda untuk paham dan mendalami budaya Jawa, namun lewat diperkenalkan saja, sudah memberikan kepuasaan tersendiri bagi mereka. Karena bagi pemuda ini, SLEnK adalah pemberi keindahan bagi budaya Jawa dan tempat untuk mengaruhi budaya tersebut. “Kami hanya berusaha meningkatkan persentuhan masyarakat muda dengan seni budaya Jawa melalui berbagai acara seperti diskusi, workshop, apresiasi pertunjukan, dan sebagainya,” papar M. Ahmad Jalidu, Manager Program SLEnk.

Di tengah globalisasi ini, menurut Gito, budaya Jawa mulai ditinggalkan. Apalagi anak muda zaman sekarang, budaya Jawa seolah-olah hanya kenangan masa lalu yang meninggalkan sejarah tersendiri. Bagi Gito, sayang sekali jika budaya Jawa ini tidak dimunculkan dan diolah sedemikian rupa dengan baik. Apalagi Jogja, khususnya sebenarnya sangatlah strategis untuk pengembangan kebudayaan Jawa tersebut. “Di Jogja ini, kantong-kantong budaya sudah banyak tersedia, namun hanya sedikit orang yang mau menyentuhnya bahkan mengembangkannya,”kata Gito.

Ada sebuah keprihatinan serta kegelisahan bagi SLEnK ketika budaya Jawa tidak dikembangkan oleh masyarakat Jogja. Bila lama dibiarkan, budaya Jawa hanyalah benda mati bersejarah yang hanya tergolek begitu saja tanpa diketahui makna di baliknya. Karena itulah, anggota SLEnK memiliki rasa tanggungjawab tersendiri untuk mengembangkan kebudayaan Jawa tersebut dan memperkenalkan kembali pada kaum muda khususnya.

Sentuhan menarik Dengan menjaring anggota yang muda, SLEnK ingin menunjukkan bahwa budaya Jawa juga menarik bagi kalangan mereka. Karena itulah, SLEnK benar-benar mengemas budaya Jawa yang semula dianggap membosankan bagi kaum muda menjadi sebuah sajian yang menarik sekaligus memberikan makna bagi mereka. Untuk memberi sentuhan yang menarik bagi anak anak muda terhadap budaya Jawa, SLEnk selalu mengemas seni budaya Jawa dengan cara yang berbeda. Gito bercerita, untuk memainkan wayang pun mereka tidak harus berpakaian ala dalang pada umumnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah bahwa masyarakat muda itu tahu pesan yang akan disampaikan.

Meski ada istilah melanggar aturan pendahulu, justru tak menjadi masalah berat bagi mereka. “Sarungan atau celana pendek sering kami lakukan. Tak hanya itu, gunungan dalam wayang pun sering tidak kami gunakan,” papar Gito. Meski kami
dianggap nyleneh, namun justru predikat tersendiri bagi mereka. Selain dari pakaian, alat yang mereka gunakan, tempat pertunjukan pun selalu mereka perhatikan. Dengan membidik tempat nongkrong anak muda seperti kafe dan warung kopi, dengan beraninya mereka akan mempertunjukkan kebolehan mereka. Dan saat ini mereka sedang gencar mempertunjukkan wayang kulit bandosa atau istilahnya wayang dengan bahasa Indonesia. Lewat wayang kulit bandosa ini, justru menjadi bentuk keingintahuan masyarakat anak muda terhadap wayang kulit yang notabenya jarang sekali mereka tonton.

Itulah kepuasaan batin mereka. Sepertinya kepuasaan tersebut mengalahkan dengan semua jerih payah mereka. Maklum saja, acara yang mereka gelar selalu gratis dan terbuka untuk umum dan dibiayai atas swadaya sendiri. Dengan memanfaatkan relasi mereka, SLEnK berusaha untuk memberikan yang terbaik pada penontonnya. Tak terdaftar Ada keunikan lain juga dari komunitas ini, bahwa anggotanya pun tak terdaftar. Sampai saat ini hanya ada 4 orang pengurusnya. Ketika ada event, 4 orang ini yang aktif bekerja sendiri. Kata Gito, syukur-syukur teman lain ada yang membantu.”Bagi kami tak ada masalah untuk bekerja dalam jumlah sedikit. Kami tak memaksa anggota kami untuk mengikuti setiap event kami.

Sukarela dan keikhlasan, itu yang terpenting,” ungkap Gito. Awalnya, komunitas SLEnK yang terbentuk tahun 2006 ini memiliki banyak anggotanya. Dulunya huruf K pada SLEnK adalah singkatan dari Kasusastran, dimana anggotanya memang mereka yang tertarik dengan sastra Jawa. Dulunya setiap 1 bulan sekali mereka akan berkumpul bersama untuk membahas tentang sastra Jawa. “Dulu setiap anggota diharuskan membawa 1 karyanya dan saat kami berkumpul kami akan mendiskusikan karya tersebut,” papar Jalidu. Jalidu menambahkan, mereka sering menghadirkan pakar budaya Jawa untuk memberi nasehat tentang apresiasi mereka. Mengirim ke media pun selalu mereka lakukan untuk mengasah kemampuan Jawa mereka. Namun lama kelamaan, para anggotanya mengalami penurunan minat untuk berkarya, karena itulah setelah 1 tahun berjalan, SLEnK mulai memperluas komunitasnya.

Dengan mengubah Komunitas SLEnK Kasusastran menjadi Kabudayaan, akhirnya SLEnK terbuka untuk siapapun yang tertarik dengan budaya Jawa. Sejak itulah, setiap acara yang mereka gelar, anggotanya akan datang silih berganti. “Kami juga mengharapkan akan muncul komunitas sejenis yang nantinya bosa bertukar pengalaman dan idedengan kami,” pungkas Jali. ( Olivia Lewi Pramesti)