Kamis, 03 Januari 2008

ARTIKEL

Membenturkan Seni Tradisi dan Remaja Masa Kini
(Catatan dari Pagelaran Wayang Kulit Tahun Baru di Warung Kopi Plus)


Oleh : M. Ahmad Jalidu

Adalah benar dan nyata jika selama ini para pecinta seni tradisional Jawa selalu mengeluh dan setengah putus asa mengenai masa depan seni tradisi. Hal ini memang selalu menjadi PR yang tak selesai. Bayangkan saja, ketika Indonesia semakin miskin pelaku seni tradisi, arus pesanan gamelan dari luar negeri semakin menunjukkan peningkatan. Konon semakin banyak pula sanggar-sanggar karawitan dan pedalangan lahir dan eksis di Amerika, Eropa, Jepang dan Australia. Dari berbagai komunitas seni tradisi, hanya segelintir yang dimotori oleh orang-orang berkategori ”muda”.

Dalam berbagai diskusi suntuk maupun obrolan non formal, persoalan ini terus saja muncul tanpa menunjukkan solusi yang cukup bisa diandalkan. Dahsyatnya pengaruh budaya barat, pop dan gencarnya kampanye hidup modern, semakin membuat ciut martabat seni tradisi di mata generasi muda kita. Namun jaman selalu melahirkan tanda-tanda perjuangan. Dari ranah seni teater misalnya, tak jarang kelompok teater modern mementaskan karya dengan sentuhan tradisi baik kostum, sumber cerita bahkan dramaturginya. Di bidang musik apalagi, lahirnya generasi musik kontemporer lebih mengema ketika muncul gaya musik yang mencampurkan musik band dengan gamelan Jawa, Sapto Raharjo, Djaduk Feriyanto, Gank Kobra dan banyak nama lain adalah para komposer dan kelompok kontemporer yang sangat kental dengan penghayatan musik tradisional Jawa.

Perjuangan budaya para seniman di atas agaknya memang cukup punya pengaruh, namun tentu saja tidak bisa dijadikan satu-satunya andalan. Dibutuhkan kegigihan pegiat-pegiat lain, dengan cara lain selain mencampurkan seni tradisi dan modern dalam wilayah konsep karya seni. Salah satunya adalah dengan membenturkan seni tradisi tersebut ke hadapan remaja masa kini. Menghadapkan mereka secara tak sengaja, atau setengah ”menjebak”. Cara inilah yang barangkali tampak sedang dilakukan (entah sengaja atau tidak) oleh Komunitas SLEnK (Suka Lelangen Edining Kabudayan) dan Warung Kopi Plus (WKP) tepat pada perayaan pergantian tahun 2007-2008 kemarin. Di tengah gencarnya live band dan pesta kembang api yang bertebaran di berbagai sudut dan tengah kota, Warung Kopi Plus justru bergandeng mesra dengan SLEnK menggelar Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk di lokasi WKP di susun Ngeban, Catur Tunggal, Depok, Sleman.

Meski wayang kulit selama ini lebih teridentifikasi sebagai wahana budaya generasi tua, ternyata ini tidak tampak pada pegelaran wayang tahun baru di WKP yang menyajikan lakon ”Sukrosono Sang Manungsa” ini. Bagaimana tidak, dalang yang membawakan lakon ini adalah Ki Eko Prasetya Sabda Gotama, seorang dalang muda yang masih ”fresh graduate” dari Jurusan Karawitan ISI Surakarta dan sudah nyambi menjadi dosen di Jurusan Pedalangan Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta. Para pengrawit juga terdiri dari tim gabungan anggota Komunitas SLEnK -- yang sebagian besar mahasiswa UNY -- dan para pengrawit dari ISI Surakata dan ASGA. Yang menjadi semakin menarik adalah lokasi pagelaran ini, yakni sebuah warung kopi.

Hampir setiap hari WKP dikunjungi oleh konsumen dari usia pelajar dan mahasiswa, demikian juga pada malam tahun baru itu. Meski ada beberapa penonton golongan tua dari masyarakat sekitar, namun tetap saja tampak menonjol penonton dari golongan muda. Remaja pria berkostum cuek dengan celana panjang ketat dan boot ala Punk, dan banyak pula gadis-gadis cantik dengan kostum gaul, funky dan sexy yang lebih ”wajar” kita temukan di bioskop atau pementasan band.

”Jebakan” yang dipasang SLEnK dan WKP ini nampaknya berjalan mulus. Sejak dimulai pukul 21.30 WIB, penonton tidak berkurang, bahkan semakin bertambah ketika mendekati pukul 00.00 WIB dan tidak ada yang melarikan diri sampai melewati pergantian tahun di tengah malam. Ini menunjukkan betapa sebenarnya generasi muda tidak sepenuhnya anti dengan seni tradisi semacam wayang kulit. Walapun tidak berlebihan jika dikatakan mereka biasanya tidak tertarik untuk sengaja mendatangi sebuah pagelaran wayang kulit meski ada di kampung mereka. Namun, para pengunjung WKP malam itu, justru menunjukkan bahwa mereka juga bisa menikmati sambil sesekali mengobrol dan menggunakan apa yang mereka lihat dan dengar itu sebagai bahan candaan dengan teman serombongannya.

Selama ini, adalah sebuah kesulitan yang cukup rumit untuk bisa menghadirkan remaja masa kini ke tengah-tengah pergelaran tradisi. Ternyata bisa diatasi dengan membuat ”jebakan” yakni menghadirkan seni tradisi di tengah-tengah arena dinamika remaja. Dan inilah salah satu cara yang mungkin bukan hal baru, namun patut untuk terus dijalankan. Cara ini memang tidak dijaminn mampu menggugah semangat menggebu para remaja untuk menyentuh seni tadisi sebagai pilihan aktivitas. Namun setidaknya ini membantu meningkatkan kuantitas persentuhan generasi muda dengan seni tradisi yang sulit terjadi dalam pergaulan masa kini mereka. Inilah salah satu misi berdirinya komunitas SLEnK. Bukan mimpi tentang merajanya kembali seni tradisi di tengah derasnya seni-seni modern dan urban. SLEnK memilih peran yang nampaknya lebih bisa terjangkau oleh stamina anggota yang tidak semuanya menyatakan memilih kesenian tradisi sebagai ”way of life”.

Sekali lagi, cara ini bukanlah hal baru, namun masih sangat perlu untuk kita gali terus menerus kemungkinannya. Pembinaan wawasan seni tradisi di sekolah-sekolah dan berbagai perguruan tinggi belum maksimal. Teladan yang diberikan para seniman semacam kreatif lewat musik kontemporer, wayang jazz, band berbahasa jawa dan sebagainya juga belum bisa merangsang remaja untuk mengenal lebih jauh tentang bagaimana seni tradisi yang murni itu. Maka langkah semacam yang dilakukan WKP-SLEnK sangatlah potensial untuk terus dilanjutkan.

Sebagaimana dipercaya, kesenian adalah sumber inspirasi bagi kebijakan hidup karena mestinya juga lahir dari kedalaman pikir dan keheningan niat. Andai kata pagelaran seni tradisi di arena pergaulan modern ini tidak mampu menumbuhkan potensi pelaku-pelaku dan pengembang seni tradisi, setidaknya ini bisa menyodorkan wahana ispsirasi kebijakan generasi masa kini yang dibesarkan dalam suasana kemakmuran yang kurang maksimal ini. Paling tidak, efek terrendah yang bisa diharapkan adalah mengulur waktu punahnya bentuk kebudayaan asli nusantara (Jawa). Apalagi, wayang adalah karya seni yang oleh UNESCO telah dinyatakan sebagai salah satu masterpiece kebudayaan dunia. Jadi tidak cukup memalukan, membenturkan wayang kulit di warung kopi yang penuh sesak oleh generasi ”funky”. Bolehlah kita berharap ini menular kepada para pegelola cafe, mall, komunitas dan berbagai arena remaja lainnya. Semoga perkembangan tradisi terus lestari.

M. Ahmad Jalidu. Penikmat Kesenian.

Manajer Program Komunitas SLEnK Yogyakarta

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Kalau kita cuma bangga dengan wayang yang sudah dapat penghargaan dari UNESCO itu sich menurut saya jangan terlalu puas dulu... karena yang dikasih penghargaan hanya SENAWANGI bukan kepada seniman wayang dan wayangnya. Penatah wayang, penyungging wayang, pembuat gapit, dalang, wiyaga and waranggana belum ada perhatian...masalah penghargaan hanya sebatas project saja. sampai sekarang masih NOL realisasinya. Jangan bangga dengan hal seperti itu... kita masih butuh banyak kerja keras bagi dunia pewayangan sekarang yang semakin terpinggirkan... Saya salut dengan KAMASETRA UNY yang sudah membuat terobosan pemikiran bagi dunia wayang...

Komunitas SLEnK mengatakan...

Ya benar sekali mas Nanang, oleh karenanya dibutuhkan sebuah kerja NYATA di berbagai sudut. dan SLEnK memilih bekerja sesuai kemampuannya yaitu pada taraf memaksimalkan peluang terhadap terjadinya persitiwa budaya jawa(dalam hal ini wayang) di tengah masyarakat yang semakin jarang berkehendak mandiri dalam mengapresiasi budaya tradisi Jawa.
O ya.. bisa dijelaskan Apa terobosan pemikiran KAMASETRA UNY tersebut, siapa tahu bisa menginspirasi kami dan siapa saja yang peduli.

Salam hormat,
M. Ahmad Jalidu

Anonim mengatakan...

Kalau saya tidak menjadi masalah membikin event atau pentas wayang di sebuah warung kopi,kalau bisa dibuat rutin aja sekalian Mas..."Sambatan yo ora opo-opo yen perlu dho urunan,sing penting guyub rukun manunggal cipta,manunggal rasa mesthi apa kang bakal ginayuh bakal sinedya"(seperti kata pepatah Pepundhen tercinta 'Bos tercinta B.Subono yang selalu memberikan semangat pada teman-teman Tim Wayang Sandosa).Karena wayang tidak harus selalu menjadi pertunjukan mewah seperti pertunjukannya Pakdhe Manteb,Pak Anom,Mas Seno,dll. Kita lihat kenyataan dilapangan bahwa tontonan wayang kulit sekarang sudah jarang,apalagi pentas di WKP diJogja,malah mungkin sama sekali belum pernah kalau setahu saya.Kemarin ketemu Pakdhe Tarko dalang dari Kuthoarjo,Pak Wondo,Mas Tono dan Mas Tholing seorang peniti wayangnya Pak Manteb yang sambat dengan keterpurukan seni pertunjukan wayang kulit sudah jarang ada yang mau nanggap.Tapi saya memberanikan diri memberi sedikit clekopan yang ditambahi Simbah saya,"sampun namung gumantung tanggapan,amargi dewasaning kahanan sangsaya benten,kathah ewah-ewahan ing jagadipun tontonan".Tapi bagaimana dengan nasib para dalang yang sudah menggantungkan hidupnya dengan menggelar pentas kalau ada yang nanggap yaa???
Pemikiran saya kalau di cafe kan ada yang namanya VJ,nah...di WKP juga ada VJ-nya tapi pentas wayang dan malah bisa dinikmati secara santai sambil minum kopi,daripada pusing lihat VJ yang visualnya sok barat,padahal cuma ngedownload di internet,kan sama saja curi karya orang lain to??Karena pementasan wayang baik purwo,beber,klithik,kancil,wahyu,madya,suluh,golek,uwong,dll
juga sebuah pertunjukan yang secara garis besar juga menonjolkan aspek segi visualnya.Daripada di cafe nanggap VJ yang nampilkan visual art yang nggak jelas gambar dan maksudnya?kan lebih baik lihat wayang.Cuma sekarang mikir bikin format pentasnya yang sesuai dan menarik.Tolong dikasih tahu tentang format pentas kemarin dong???mungkin saya bisa urun rembug untuk pentas yang kedepan.Kalau saya sudah pernah mencoba bikin Visual art dengan media wayang,saya buat untuk para VJ di seluruh cafe seJogja bersama teman saya seorang DJ dan VJ Gatthering buat Video Jockeynya.Tapi kalau pentas malah belum pernah saya coba.Coba saja yang program The Slenk kedepan pentas di Embassy atau di Hugo's... "Apapun cara yang masih bisa kita bisa,lakukan saja"nich kata mutiara dari Sang Maestro wayang Ukur Mbah Kasman pendekar wayang dari Mergangsan...Oh iya...bukannya aku pamer lho "..waduh sombong banget.."tapi cuma woro-woro aja bahwa kita juga harus bangga lagi dengan wayang,sekarang sudah di buat film animasi bahkan ada workshop pembuatan film animasi wayang kancil dan purwo setiap satu bulan sekali di Museum Tropenz Amsterdam Belanda dan baru persiapan bikin 125 episode dengan semacam PH film di Netdherland yang mudah-mudahan siap luncur tahun 2010.Tapi mau saya Launching dulu di Indonesia besok february di Bentara Budaya dengan garapan naskah terbaru dari Rama Sindunata yang sudah saya pakai pada episode lakon Catatan Bargawa dan Kidung Layung Banowati, juga Kisah Senja Sokalima yang dibuat oleh teman dari ISI Solo.Mungkin juga(mudah-mudahan otekku ora kuwur meneh)kalau sudah bisa bikin samplenya juga akan bekerjasama dengan salah satu Universitas Teknologi di Jerman akan bikin game dengan karakter wayang,tapi dalam target jangka panjang.Pokoknya prinsip saya berjuang terusss tanpa henti demi saudaraku sang wayang!!! Saya ingin menunjukan kalau kebudayaan jawa terutama wayang tidak pernah mati dalam penemuan kreativitasannya dan juga bisa sejajar dengan seni yang sok-sok'an berbau serba modern,serba teknologi,serba urban,serba-serbi...Heee..hee... Semua hanya tergantung niat dan kerja keras yang tanpa henti...Pepatah Mbah Buyut Nartosabdo mengatakan : Yen rumangsa dadi wong Jowo mbok ojo sok dhemen nyingkurake budaya jawa,mengko mundhak keno wewalading para leluhur kang tansah dadi bebetenging kabudayan jawa.OK...
Menawi wonten klenta-klentuning atur nyuwun diagung pangaksamanipun...
Matursembahnuwun.