Senin, 12 November 2007

ARTIKEL

MENGGAGAS LOMBA YANG OBYEKTIF DAN EFEKTIF
Oleh Sugito HS



Sejak lama saya Memikirkan problema event lomba untuk seni pertunjukan dan sastra. Banyak kasus peserta yang tidak terima; tidak puas; bahkan tidak percaya dengan keputusan juri atas hasil perlombaan. Peserta lomba yang yakin bahwa karyanya telah dibuat; disiapkan; diteliti ulang; dikonsultasikan; dikemas; dan disuguhkan dengan nyaris sempurna akhirnya kecewa atas hasil penjurian yang tidak berpihak kepadanya –karyanya. Banyak tuduhan dilontarkan dengan ringan kepada penyelenggara hingga para juri atau bahkan peserta lombayang lain, yang mungkin mendapatkan nasib baik: menang. Penyelenggara dicaci tidak profesional. Juri didakwa tidak kompeten dan subyektif. Pemenang dicurigai terlibat kolusi dan nepotisme. Lebih ironis lagi ada kisah peserta yang kalah, berani malu memohon penyelenggara dan juri agar dimenangkan. Seolah terlupakan bahwa ada satu kalimat ajimat yang selalu ditulis dan diucapkan oleh setiap penyelenggara lomba, yaitu “keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat”.

Oleh karena itu saya lebih suka menikmatiparade. Puluhan pertunjukan disuguhkan tanpa berakhir dengan keputusan mana yang terbaik. Ratusan puisi dibacakan walau hanya di sepanjang trotoar jalan tanpa menorehkan kecewa di hati “sastrawan”. Belasan prosa dibukukan dan bebas dimiliki siapapun yang menginginkan. Tapi, masyarakat manusia terlanjur teguh berkiblat pada tabiat hewan. Kemenangan adalah kekuasaan. Kekuasaan adalah kekayaan. Kekayaan adalah kewibawaan. Maaf, ini menyedihkan.

Berdasarkan hasil kesuntukan mengumpulkan referensi, sampai di siNi saya memutuskan untuk menawarkan –semoga ada yang berkenan- dan sungguh-sungguh akan mencoba sistem perlombaan yang “baru” (menurut saya). Bila dibandingkan dengan sistem yang lazim, letak perbedaannya hanya pada detil ketentuan lomba yang disampaikan penyelenggara kepada para calon peserta. Diharapkan, dengan ketentuan yang detil, tugas juri akan lebih banyak dipermudah demi hasil keputusan yang obyektif.

Ambil contoh: untuk lomba menulis cerita pendek. Penyelenggara harus menentukan tema yang telah benAr-benar spesifik; satu pilihan jenis cerita (realis atau surealis?); satu pilihan jenis alur (maju, mundur, sorot balik, atau tarik balik?); satu pilihan latar waktu (lampau, kini, atau mendatang?); satu pilihan latar tempat (dalam negeri atau luar negeri?, desa atau kota?, dsb.); satu pilihan ukuran (satu babak atau banyak babak?); satu pilihan sudut pandang; satu pilihan bentuk (prosa lirik atau dialog?); satu pilihan profesi tokoh utama; dan seterusnya hingga tepat detil. Belum saatnya mengatakan ini caRa yang sulit atau murahan jika belum pernah dicoba (dibuktikan).

Usai lomba seyogyanya diakhiri dengan workshop yang menghadirkan ahli untuk memaparkan cara kerja kreatif menulis cerita yang berangkat dari ketentuan yang disyaratkan tersebut. Saya menyimpulkan bahwa strategi ini tergolong bertanggungjawab terhadap inti percerdasan. Terima kasih.

Kalongan-Maguwoharjo, 16 Oktober 2007

Tidak ada komentar: